Langsung ke konten utama

Tauhid sebagai Basis Revolusi Sosial dan Saintifik

Doktrin tauhid merupakan doktrin fundamental di dalam agama-agama Semitik/Abrahamik: Yahudi, Nasrani dan Islam. Agama Hindu mengenal tiga dewa: Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara) dan Shiwa (perusak). Meskipun, barangkali karena tuntutan zaman, saat ini doktrin tersebut dibaca ulang dalam frame tauhid: dewa tunggal yang memiliki tiga peran utama. Agama Budha tidak menyinggung persoalan Tuhan. Sidharta Gautama, ketika ditanya tentang Tuhan, ia hanya diam. Boleh jadi ia sebenarnya tahu (makrifat) terhadap Tuhan, tetapi gagal membahasakan Tuhan.
Doktrin tauhid (monoteisme) dianggap oleh kebanyakan sarjana agama-agama sebagai doktrin keagamaan yang paling maju. Urutannya adalah sebagai berikut: Dinamisme – animisme – politeisme – henoteisme – monoteisme. Monoteisme berada pada puncak perkembangan paling maju, sampai saat ini. Pendapat sebaliknya datang dari Karen Armstrong. Ia mengatakan bahwa doktrin ketuhanan primordial adalah monoteisme: satu Tuhan yang transenden. Tetapi, oleh karena orang merasa jauh dengan Tuhan yang transenden tersebut, maka mereka menciptakan tuhan-tuhan lain sebagai perantara dengan Tuhan yang transenden. Akhirnya, orang melupakan Tuhan yang transenden, digantikan dengan tuhan-tuhan perantara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Muncullah politeisme.
Jangan dikira bahwa kita saat ini telah terbebas dari tuhan-tuhan perantara semacam itu. Nama “Allah atau Tuhan” hanyalah simbol. Dan, kita mungkin banyak terjebak oleh simbol-simbol. Tidak mungkin terjadi kekerasan atas nama agama jika kita tidak terjebak oleh simbol-simbol. Kita menganggap simbol-simbol tersebut adalah Tuhan, padahal bukan. Tuhan yang sejati adalah apa yang ada di balik simbol. Bisa jadi bahwa kita selama ini hanya menyembah nama, bukan menyembah zat. Jika demikian, apa bedanya dengan masyarakat Arab jahiliyah?
Tauhid merupakan doktrin sentral di dalam Islam. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa seluruh nabi-nabi diutus untuk menyampaikan doktrin tauhid. Jika melihat pada dakwah yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. di kalangan masyarakat Arab jahiliyah, maka doktrin tauhid tidak melulu dimaksudkan untuk memberantas tuhan-tuhan perantara yang banyak sekali (disebutkan bahwa di sekitar ka’bah ada 360 berhala), melainkan ditujukan pula untuk merevolusi sistem sosial yang ada pada waktu itu. Perlu diketahui bahwa, menurut Prof. Tosihiko Izutsu, masyarakat Arab jahiliyah telah mengenal Allah sebagai tuhan tertinggi. Tidak heran jika beberapa nama menggunakan kata “Abdullah” (hamba Allah). Menurut penulis, bukan sebuah revolusi besar-besaran jika yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. sebatas menghapus tuhan-tuhan perantara, di mana masyarat Arab jahiliyah juga telah mafhum terhadap persoalan tersebut.
Doktrin tauhid yang diperjuangkan oleh Rasulullah Saw. berdampak kepada perombakan sistem sosial yang ada pada waktu itu. Kalimat tauhid “Tidak ada tuhan selain Allah” berimplikasi pada pemahaman bahwa tidak ada yang patut untuk diperjuangkan, dipertahankan dan dibanggakan selain Allah. Masyarakat Arab jahiliyah yang dahulu membanggakan suku/klan, harta, tahta, jumlah wanita di dalam harem, kini diajak oleh Rasulullah Saw. untuk melepaskan hal-hal yang sifatnya temporal tersebut, digantikan dengan sesuatu yang abadi: Allah. Jika properti yang sifatnya temporal itu dilepaskan, maka meniscayakan persamaan kedudukan/derajat di antara semua umat manusia. “Tidak ada beda kedudukan di hadapan Allah antara orang Arab dengan non-Arab, kecuali perbedaan karena takwa.”
Perlawanan terhadap doktrin tauhid yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. bukan berasal dari penyembah berhala (politeisme), tetapi berasal dari para penguasa dan kalangan orang terhormat pada waktu itu. Tentu saja mereka keberatan dengan gagasan sang nabi yang  menyamaratakan kedudukan/derajat seluruh manusia. Bagaimana mungkin seorang yang terhormat disamakan kedudukannya dengan seorang budak. Jika kita melihat sejarah perjuangan nabi-nabi, maka kita akan melihat bahwa nabi-nabi itu sebagai tokoh-tokoh revolusioner yang berusaha mengubah tatanan sosial yang ada. Perjuangan untuk menyingkirkan tuhan-tuhan perantara (dewa-dewa, berhala-berhala) juga terjadi, tetapi perlawanan sengit muncul karena implikasi dari doktrin tauhid terhadap tatanan sosial yang ada.
Relevansinya dengan kondisi sosial saat ini: perjuangan menegakkan tauhid diperlukan untuk memberantas budaya hedonisme, yang mulai meracuni generasi muda kita. Hal-hal yang sifatnya temporal, seperti harta, tahta, wanita, popularitas, harus disingkirkan, dan digantikan dengan satu yang abadi, Allah. Tujuan akhir dari segala sesuatu adalah bersatu dengan Allah. Maka, properti-properti yang sifatnya temporal tersebut tidak boleh mengecohkan tujuan akhir perjalanan kita, yakni Allah.
Selanjutnya, tauhid sebagai basis revolusi saintifik dimaksudkan sebagai jawaban terhadap krisis yang diakibatkan oleh perkembangan ilmu yang luar biasa pasca terjadinya renaisans. Di satu sisi, perkembangan ilmu tersebut mampu menunjukkan kedigdayaannya melalui pembangunan fisik dunia, tetapi, di sisi lain, manusia justru kehilangan kekayaan yang ada di dalam dirinya: perasaan transendental. Fenomena ilmuwan yang seketika menjadi ateis setelah melakukan penelitian tertentu sudah menjadi kabar yang lumrah. Mereka kehilangan nilai-nilai, sehingga tidak lagi memiliki arah dan terjebak ke dalam keputusasaan. Positivisme menjadi satu-satunya model epsitemologi yang diakui oleh kalangan ilmuwan modern. Jiwa, yang merupakan hakikat manusia, harus dibaca dalam kerangka positivisme: yakni sebagai reaksi-reaksi syaraf otak semata. Dan, otak adalah bersifat fisik. Walhasil, yang sejati adalah yang fisik, sementara, non-fisik adalah hasil reaksi-reaksi dari yang fisik.
Tokoh-tokoh yang menyadari persoalan ini, seperti Osman Bakar (cendekiawan asal Malaysia), Mulyadhi Kartanegara (cendekiawan asal Indonesia), Seyyed Hossein Nasr, Martin Lings, William C. Chittick, Titus Burckhardt, dll., berupaya untuk memperkenalkan sains Islam dan melakukan islamisasi ilmu. Mereka menunjukkan bahwa segala yang ada memiliki keterhubungan transendental dengan Tuhan. Dunia materi hanyalah aktualitas dari potensi yang ada di alam ide, berupa entitas-entitas permanen (A’yan tsabitah). Dalam sains Islam tidak ada satu metodologi tunggal yang mendominasi dalam pencarian kebenaran (misal: hanya positivisme). Ada banyak metodologi yang digunakan di dalam sains Islam, semua tergantung dari objek kajian.
Saya tidak bisa menguraikan lebih panjang lagi karena keterbatasan waktu. Intinya, tauhid menjadi landasan/basis bagi revolusi saintifik: segala sesuatu terhubung dengan yang satu, Tuhan. Jika revolusi saintifik tersebut diterapkan, maka insha Allah bisa menutup lubang menganga yang timbul akibat dari epistemologi abad modern. []
*Ditulis ketika penulis ditugasi untuk berdiskusi dengan delegasi mahasiswa University Sains Islam Malaysia (USIM) di Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada 8 September 2015.
Ciputat, 8 September 2015

Komentar